Mengapa orang sekarang gampang dihasut untuk melakukan tindak kekerasan?
Ada yang bilang karena masalah perut. Ketika kesejahteraan masih menjadi impian, ketika banyak orang stres karena tekanan hidup, maka orang cenderung sensitif. Bisa dibilang setiap detik, orang-orang ini sudah menahan marah di dalam dirinya. Marah terhadap kondisi hidup yang serba susah, susah makan, susah cari kerja, susah memenuhi kebutuhan, susah membebaskan diri dari belitan utang, dan susah-susah yang lain. Jadi, ketika ada yang mengajak untuk berbuat kekerasan, dengan mudahnya iya akan mengikutinya… Ya, hitung2 sebagai cara untuk melampiaskan kekesalan dan kepenatan hidup.
Mo coba buktikan, coba sekali-kali tabrak motor di depan Anda ketika berkendaraan di Jakarta, ya, kecepatan sedang saja, jangan sampai Anda atau yang Anda tabrak jatuh. Meskipun motor yang Anda tabrak tidak apa-apa, dan Anda sudah minta maaf, suara makian pasti mampir ke telinga Anda, bahkan kalau lagi sial, bogem mentah dengan gampang bisa mendarat ke muka Anda.
Ada juga yang bilang, karena kebodohan. Katanya, kebanyakan orang mau dihasut untuk anarki karena mereka (maaf)Â kurang berpendidikan. Katanya hanya orang yang nggak pinter saja yang senang dengan kekerasan, kalau dia pintar dan bisa berpikir jernih dengan logika, tentu gak mau diajak macem-macem. Cuma hal ini mentah lagi kalau melihat contoh kasus antarmahasiswa yang tawuran.
Ada yang bilang, karena pengaruh televisi. Banyaknya film-film yang mempertontonkan kekerasan di televisi. Ini yang dijadikan “kambing hitam” sehingga katanya orang jadi cenderung meniru dan membuat aksi kekerasan itu lumrah.
Ada yang bilang karena hukum tidak ditegakkan. Banyaknya aksi kekerasan yang mengikutsertakan massa akhirnya tidak diusut tuntas oleh Polisi, membuat aksi yang sama terus berlanjut. Bahkan yang tadinya tidak menggunakan kekerasan, karena melihat kelompok lain tidak ditindak, menjadi ikut-ikutan berlaku keras.
Bagaimana menurut Anda? Kalau saya pribadi, masalahnya ada pada faktor pendidikan dan kesejahteraan. Coba negeri ini semua penduduknya “cerdas” karena menerima pendidikan hingga at least perguruan tinggi. Selain itu, setiap harinya, orang tak lagi memikirkan apa yang bisa jadi pengganjal perutnya hari ini, karena sudah berkecukupan, wah pastinya tingkat kekerasan di negeri ini akan surut drastis.