Bikin Hidup Jadi DagDigDug


Perut Kenyang dan Cerdas = Antikekerasan

Jun
04

Mengapa orang sekarang gampang dihasut untuk melakukan tindak kekerasan?

Ada yang bilang karena masalah perut. Ketika kesejahteraan masih menjadi impian, ketika banyak orang stres karena tekanan hidup, maka orang cenderung sensitif. Bisa dibilang setiap detik, orang-orang ini sudah menahan marah di dalam dirinya. Marah terhadap kondisi hidup yang serba susah, susah makan, susah cari kerja, susah memenuhi kebutuhan, susah membebaskan diri dari belitan utang, dan susah-susah yang lain. Jadi, ketika ada yang mengajak untuk berbuat kekerasan, dengan mudahnya iya akan mengikutinya… Ya, hitung2 sebagai cara untuk melampiaskan kekesalan dan kepenatan hidup.

Mo coba buktikan, coba sekali-kali tabrak motor di depan Anda ketika berkendaraan di Jakarta, ya, kecepatan sedang saja, jangan sampai Anda atau yang Anda tabrak jatuh. Meskipun motor yang Anda tabrak tidak apa-apa, dan Anda sudah minta maaf, suara makian pasti mampir ke telinga Anda, bahkan kalau lagi sial, bogem mentah dengan gampang bisa mendarat ke muka Anda.

Ada juga yang bilang, karena kebodohan. Katanya, kebanyakan orang mau dihasut untuk anarki karena mereka (maaf)  kurang berpendidikan. Katanya hanya orang yang nggak pinter saja yang senang dengan kekerasan, kalau dia pintar dan bisa berpikir jernih dengan logika, tentu gak mau diajak macem-macem. Cuma hal ini mentah lagi kalau melihat contoh kasus antarmahasiswa yang tawuran.

Ada yang bilang, karena pengaruh televisi. Banyaknya film-film yang mempertontonkan kekerasan di televisi. Ini yang dijadikan “kambing hitam” sehingga katanya orang jadi cenderung meniru dan membuat aksi kekerasan itu lumrah.

Ada yang bilang karena hukum tidak ditegakkan. Banyaknya aksi kekerasan yang mengikutsertakan massa akhirnya tidak diusut tuntas oleh Polisi, membuat aksi yang sama terus berlanjut. Bahkan yang tadinya tidak menggunakan kekerasan, karena melihat kelompok lain tidak ditindak, menjadi ikut-ikutan berlaku keras.

Bagaimana menurut Anda? Kalau saya pribadi, masalahnya ada pada faktor pendidikan dan kesejahteraan. Coba negeri ini semua penduduknya “cerdas” karena menerima pendidikan hingga at least perguruan tinggi. Selain itu, setiap harinya, orang tak lagi memikirkan apa yang bisa jadi pengganjal perutnya hari ini, karena sudah berkecukupan, wah pastinya tingkat kekerasan di negeri ini akan surut drastis.

Ruar Biasa, Butuh Lebih dari 1.000 Polisi

Jun
04

Banyak yang bilang, peristiwa di Petamburan pagi ini menjadi proses penangkapan terbesar yang dilakukan oleh jajaran Polri. Harusnya, pihak MURI ikut turun ke lapangan kasih penghargaan.

Hanya untuk menangkap DPO (yang sebelumnya katanya) 10 orang, diterjunkan polisi sebegitu banyaknya, hingga katanya mencapai 1.500 personel. Memang sudah waktunya Polri bergerak cepat sebelum pihak-pihak lain yang sebenarnya tidak berkepentingan turun ke jalan menimbulkan konflik horisontal yang bisa menimbulkan caos di ibukota.

Coba saja jika dulu, Polri lebih tegas dan langsung melakukan penangkapan di TKP pada setiap adanya aksi anarki di negeri ini, tentunya tak akan merepotkan banyak pihak, hingga dari masyarakat sampai presiden ikut bersuara, mengecam bahkan ada yang mengancam.

Semoga apa yang terjadi belakangan ini menjadi pelajaran bagi semua, bahwa kekerasan, apapun alasannya tidak akan pernah menyelesaikan  masalah. Selain itu, di negara yang katanya memiliki hukum ini, sudah saatnya penegak hukumnya bertindak lebih tegas menghadapi setiap tindakan melawan hukum, sehingga membuat jera para pelaku tindak kekerasan.

Smoga bukan jadi anget-anget tahi ayam, ya buat semuanya…

Soalnya dulu katanya ada yang pernah bilang sudah berubah dan kini tidak akan mengedepankan kekerasan, tapi ternyata dengan berjalannya waktu, eh ternyata kumat lagi…

Ketika Kekerasan Masih Dibela

Jun
02

Sedih melihat banyak dari saudara-saudara kita di negeri ini masih memberikan pembenaran atas terjadinya sebuah kekerasan. Memberikan pemakluman apalagi pembenaran terhadap sebuah kekerasan karena alasan apapun hanyalah akan memunculkan konflik dan kekerasan baru.

Bukannya damai itu lebih menyejukkan? Bukannya setiap masalah itu bisa dibicarakan jalan keluarnya? Agaknya mencari solusi dengan jalan kekeluargaan dan asas mufakat hanya tinggal slogan semata.  Sungguh menyedihkan….

Budaya Ngeles dan Cari Kambing Hitam

Jun
02

Survei di lapangan menunjukkan pasokan kambing hitam di pasar hewan negeri ini kian langka, pasalnya kian hari, kian banyak orang yang kerap mencari kambing hitam terhadap masalah yang ada. Sadar maupun tidak, ngeles kian menjadi budaya bangsa ini. Dari (oknum) maling sampai (oknum) pej*b*t sering terlihat saling tuduh, lempar tanggung jawab dan mencari kambing hitam ketika dihadapan oleh sebuah masalah, baik yang remeh temeh hingga yang sangat krusial.

Kewibawaan hanya tinggal dalam baju batik mahal yang dikenakannya. Ketika masuk kamar dan baju itu dilepas, seakan tak ada kewibawaan yang tersisa melekat dalam badan. Tidak ada lagi titisan-titisan kstaria yang gagah berani seperti di kisah pewayangan yang lahir di jaman ini, yang ketika lalai menjalankan tugasnya, siap berkata dengan lantang, “Ya, ini salah saya. Saya bertanggung jawab atas ini tanpa tapi dan tanpa syarat, ini kealpaan saya dan saya siap mundur dari jabatan saya.”

Jadi ingat, dulu waktu di sekolah dasar, sering kali kita meremehkan pelajaran budi pekerti. Pelajaran yang sering kita anggap gak jelas dan gak mutu ini ternyata sebenarnya sangat diperlukan untuk membangun pribadi-pribadi yang santun, bertangung jawab, dan menghormati sesama. Agaknya porsi pelajaran budi pekerti ini harus ditambah dan diperpanjang. Mungkin tak hanya dari SD, tapi sampai perguruan tinggi, agar kita semua tak lupa untuk selalu menjadi pribadi yang berbudi pekerti.

Janggal, Berita Soal Sita Software Bajakan

Mar
14

Bukannya tidak akur dengan Polisi soal software bajakan. Saya sendiri kini sudah mulai mencoba memakai aplikasi yang original. Cuma melihat berita foto yang ada di detik, kok ada yang janggal ya.

Disebutkan di situs selain Windows Xp, Photoshop dan lainnya, ada Acrobat Reader. Nah loh, bukannya aplikasi ini gratisan alias freeware. Kalo Adobe Acrobat memang berbayar, tapi klo acrobat reader setahuku freeware dan bebas digunakan.

Jadi bingung? Ini kesalahan ada di pihak Pak Pol yang masih belum ngerti mana yang berlisensi dan mana yang bebas digunakan, atau wartawan detiknya yang kurang cermat dalam menulis berita?

Korban Ketergantungan Google

Feb
29

Mengapa banyak warnet yang menggunakan Speedy sepi?

Mengapa juga aku keliatan bego, gak ada kerjaan dengan internet nyambung setengah hati hanya untuk lokal IIX?

Jawabnya, karena kita semua gak tahu harus ke mana. Kita sudah terlalu tergantung dengan Eyang Gugel. Dikit2, sowan eyang minta petunjuk…. Kini ketika Eyang gak bisa ditemui karena rumahnya tutupan rapet, mo ke mana coba?

Parahnya memang, saat ini gak ada Eyang Gugel lokal yang hanya melakukan crawler ke situs-situs lokal. Kan situs lokal itu bukan hanya sebatas detik.com, kompas.co.id atau situs2 berita lain, banyak situs Indonesia yang memang di host di serper lokal. Kitanya saja yang gak tahu…

Jadi gini nih…

Kalo akses internasional bermasalah, sudah deh… gak punya arah tujuan…

Buka tutup detik.com, akhirnya bosen juga karena intensitas kita refresh situs tersebut lebih sering ketimbang update dari wartawannya.

So, mungkin yang jago nyekrip bisa tuh mulai dibangun skrip crawler utk situs-situs lokal. Jadi ketika kayak dulu, akses internasional putus di Taiwan karena jangkar kapal, atau kasus lokal telkomnyet dan sepidi saat ini, pelanggan tak begitu lonely dan tahu mau ke mana…

Pak bos di DagDigDug, tentu mo mengakomodir untuk merealisasikan klo memang ada yang sanggup…

Eni wan ken helep mi plis…..

Sudah sakau nih…gatel gak ada yang bisa diakses :p

Speedy !@#$%

Feb
29

Pagi tadi hingga sekarang Speedy bermasalah lagi…

Jika dini hari tadi semua situs tidak bisa dibuka meski status modem terkoneksi, pagi ini saat tulisan ini dibuat Speedy hanya bisa mengakses IIX alias content lokal.

Payah Oeii… Masak mo sowan Eyang Gugle aja ditolak…

Memang susah kerja online dari pinggir jakarta, pilihan akses internet broadband terbatas. Alhasil kepaksa harus milih pilihan yang mahal. Padahal di belahan daerah lain, ada yang sudah bisa menikmati fasilitas yang sama dengan harga “cepek ceng” alias 100rb doang. Parahnya, meski sudah ngeluarin budget Rp 825rb/bulan buat Speedy Office, ternyata layanan yang didapat belumlah memuaskan… Ada saja gangguannya… Yang jaringan teleponnya kek, yang saluran di sentral Speedy nya kek… Kadang sudah dapat jaringan dan saluran yang bagus… tiba-tiba putus karena ada orang di lapangan yang tuker-tuker kabel…

Infrastruktur di Indonesia memang !@#$%^&

Kalo semua fasilitas yang bagus dan murah adanya di Jakarta, di tengah kota, jangan heran kalo semua orang ingin tinggal di tengah kota…. Yang tinggal masih di sebelah Jakarta saja dah banyak masalah, bagaimana kalo yang jauh dari Jakarta… Jangan harap deh…

Bos besar! Kapan nih infrastruktur bisa merata ke seluruh negeri…

Supaya anak pak Tani bisa ngelola web jualan komoditi online di internet… Biar anak nelayan bisa cari peluang ekspor udang hasil tangkapan ortunya di internet…. Dan tentunya biar saya dapat milih dari banyak pilihan layanan internet broadband yang ada, sehingga tak tergantung oleh satu layanan saja…

“Mimpi… kali….”

PHK @ Mana2

Feb
28

Halah, di komplek kini sudah ada dua orang bapak yang jadi korban PHK di tempat kerjanya masing masing. Belum lama berselang, suami istriku juga terkena hal yang serupa karena tempat dia bekerja ditutup setelah terus merugi. Istrikusambil cengar-cengir cerita… “Asyik sekarang ada temennya,” ujarnya. Hayah..

Ketika bersama mereka, terbesit ada rasa resah, takut dan was-was dengan masa depan dan hidup yang akan dia jalani. Maklum, tak seperti aku yang masih muda :p, kedua bapak ini sudah berumur. Apalagi di belakang mereka ada istri dan anak yang menggantungkan hidupnya ke mereka. Ada yang harus menghidupi dua anak yang sama-sama sedang kuliah, satunya lagi memiliki dua anak yang masih duduk di bangku SMP dan SD.

Dalam sebuah kesempatan, pada sebuah pertemuan religi di komplek, aku sempat mendengar keluh kesah mereka. “Kenapa ya kok kita yang sudah mencoba berbuat baik, sama Tuhan dikasih cobaan seperti ini,” ujarnya dengan nada protes. Pada kesempatan itu, aku sempat bacakan sebuah cerita renungan tentang ubin dan patung yang aku comot dari salah satu blog. Semoga dari cerita tersebut dia bisa kembali sadar dan tergugah untuk ttidak menyalahkan kepada Sang Pemahat, tetapi lebih berserah dan tetap berusaha. God always give us a way.

Sial memang, andai saja semua rencanaku berjalan lancar sejak awal, tentu dengan senang hati aku akan rekrut mereka untuk kerja bareng di tempatku, untuk bersama-sama membangun mimpi. Sayang baru bulan ini semua bergerak sesuai rencana, setelah aku mengganti “cara berjualan”, sehingga at least baru menjelang akhir tahun ini, secara hitungan matematika, aku bisa mulai merekrut orang.

Tuhan, bantu aku agar aku bisa membantu mereka…. dan bantu mereka yang saat ini belum bisa aku bantu…

Hidup Kok Gak Singkron

Feb
28

“Gimana kabarmu. Sekarang ada rencana apalagi?” tanya sobat di ujung telepon.

“Belum, belum ada rencana baru, masih meneruskan rencana-rencana awal yang sudah ada,” jawabku.

“Kmu gak ngalamar kerja lagi,” tanyanya lagi. “Gila, kamu…istrimu gimana?”

“Gak malas, istri gak mempermasalahkan, malah bisa ikut jagain anak katanya…”

“Dari dulu, hidupmu tuh kayaknya gak pernah singkron, gak pernah ada ditracknya,” ujarnya lagi.

“Kuliah ambil Sipil, sudah gitu ambil jurusan menkon. Setelah lulus malah kerja jadi wartawan, desk komputer lagi, gak nyambung. Sekarang malah mainan saham, nulis buku, bikin situs, halah, makin gak nyambung lagi,” katanya

“Hehehe…” jawabku

“Lha mau gimana lagi, emang jalanku begini…” ujarku berkilah.

“Kalau aku lah gak bisa, lho. Makanya setiap telepon kmu, aku selalu tanya ada rencana apa? Soalnya lucu aja,  kamu tuh selalu saja ada rencana-rencana yang gak pernah terpikirkan.”

“Halah, kok malah dianggap lucu,” jawabku.

“Eh, clientku sudah datang, sudahan dulu ya, gudlak dengan semua rencanamu. ntar aku telpon lg kapan kapan. tut…tut..tut..”

Telepon ditutup…

Habis itu, aku baru tersadar..

Iya, ya… apa yang dibilang temenku ada benernya. Hidupku itu selama ini gak pernah “lama” di jalurnya, kapan saja bisa belok, kiri atau kanan. Bagi orang lain jadi unpredictable. Kadang terlihat”grusa-grusu” kalo orang Jawa bilang, dan terlihat tidak berpikir panjang.

Padahal aku merasa, semua rencana yang aku ambil adalah rencana yang sudah terpetakan dengan benar, menurutku. Aku mungkin hanya kelewat kreatif, atau jiwa entrepreneur yang aku miliki selalu bertindak “autopilot” ketika melihat adanya sebuah  peluang. Alhasil, jadilah aku keliatan suka belok kiri, belok kanan, sak karepe dewe.

Sampai-sampai istriku kadang kewalahan untuk meyakinkan ortunya dengan semua rencanaku, dengan membeberkan semua itungan matematika yang bisa ditangkap oleh orang awam. Maklum, beliau paling tidak suka melihat aku tak memiliki “status”.

Ah tapi what the hell dengan apa yang mereka bilang. Memang hidupku seperti air, bisa mengalir ke mana saja mencari daerah yang lebih rendah. Kadang mengalir super pelan di jalan yang datar, menjadi keruh ketika bercampur lumpur, atau terkadang ikut terbawa aliran sungai yang deras dan bergelombang, tapi yang pasti aku yakin, suatu ketika air ini akan mencapai sebuah telaga yang tenang, jernih, penuh kedamaian, dengan pepohonan yang hijau di sekitarnya, dan suara cicit burung bersahutan.