Bikin Hidup Jadi DagDigDug


Archive for Juni, 2008

Perut Kenyang dan Cerdas = Antikekerasan

Rabu, Juni 4th, 2008

Mengapa orang sekarang gampang dihasut untuk melakukan tindak kekerasan?

Ada yang bilang karena masalah perut. Ketika kesejahteraan masih menjadi impian, ketika banyak orang stres karena tekanan hidup, maka orang cenderung sensitif. Bisa dibilang setiap detik, orang-orang ini sudah menahan marah di dalam dirinya. Marah terhadap kondisi hidup yang serba susah, susah makan, susah cari kerja, susah memenuhi kebutuhan, susah membebaskan diri dari belitan utang, dan susah-susah yang lain. Jadi, ketika ada yang mengajak untuk berbuat kekerasan, dengan mudahnya iya akan mengikutinya… Ya, hitung2 sebagai cara untuk melampiaskan kekesalan dan kepenatan hidup.

Mo coba buktikan, coba sekali-kali tabrak motor di depan Anda ketika berkendaraan di Jakarta, ya, kecepatan sedang saja, jangan sampai Anda atau yang Anda tabrak jatuh. Meskipun motor yang Anda tabrak tidak apa-apa, dan Anda sudah minta maaf, suara makian pasti mampir ke telinga Anda, bahkan kalau lagi sial, bogem mentah dengan gampang bisa mendarat ke muka Anda.

Ada juga yang bilang, karena kebodohan. Katanya, kebanyakan orang mau dihasut untuk anarki karena mereka (maaf)  kurang berpendidikan. Katanya hanya orang yang nggak pinter saja yang senang dengan kekerasan, kalau dia pintar dan bisa berpikir jernih dengan logika, tentu gak mau diajak macem-macem. Cuma hal ini mentah lagi kalau melihat contoh kasus antarmahasiswa yang tawuran.

Ada yang bilang, karena pengaruh televisi. Banyaknya film-film yang mempertontonkan kekerasan di televisi. Ini yang dijadikan “kambing hitam” sehingga katanya orang jadi cenderung meniru dan membuat aksi kekerasan itu lumrah.

Ada yang bilang karena hukum tidak ditegakkan. Banyaknya aksi kekerasan yang mengikutsertakan massa akhirnya tidak diusut tuntas oleh Polisi, membuat aksi yang sama terus berlanjut. Bahkan yang tadinya tidak menggunakan kekerasan, karena melihat kelompok lain tidak ditindak, menjadi ikut-ikutan berlaku keras.

Bagaimana menurut Anda? Kalau saya pribadi, masalahnya ada pada faktor pendidikan dan kesejahteraan. Coba negeri ini semua penduduknya “cerdas” karena menerima pendidikan hingga at least perguruan tinggi. Selain itu, setiap harinya, orang tak lagi memikirkan apa yang bisa jadi pengganjal perutnya hari ini, karena sudah berkecukupan, wah pastinya tingkat kekerasan di negeri ini akan surut drastis.

Ruar Biasa, Butuh Lebih dari 1.000 Polisi

Rabu, Juni 4th, 2008

Banyak yang bilang, peristiwa di Petamburan pagi ini menjadi proses penangkapan terbesar yang dilakukan oleh jajaran Polri. Harusnya, pihak MURI ikut turun ke lapangan kasih penghargaan.

Hanya untuk menangkap DPO (yang sebelumnya katanya) 10 orang, diterjunkan polisi sebegitu banyaknya, hingga katanya mencapai 1.500 personel. Memang sudah waktunya Polri bergerak cepat sebelum pihak-pihak lain yang sebenarnya tidak berkepentingan turun ke jalan menimbulkan konflik horisontal yang bisa menimbulkan caos di ibukota.

Coba saja jika dulu, Polri lebih tegas dan langsung melakukan penangkapan di TKP pada setiap adanya aksi anarki di negeri ini, tentunya tak akan merepotkan banyak pihak, hingga dari masyarakat sampai presiden ikut bersuara, mengecam bahkan ada yang mengancam.

Semoga apa yang terjadi belakangan ini menjadi pelajaran bagi semua, bahwa kekerasan, apapun alasannya tidak akan pernah menyelesaikan  masalah. Selain itu, di negara yang katanya memiliki hukum ini, sudah saatnya penegak hukumnya bertindak lebih tegas menghadapi setiap tindakan melawan hukum, sehingga membuat jera para pelaku tindak kekerasan.

Smoga bukan jadi anget-anget tahi ayam, ya buat semuanya…

Soalnya dulu katanya ada yang pernah bilang sudah berubah dan kini tidak akan mengedepankan kekerasan, tapi ternyata dengan berjalannya waktu, eh ternyata kumat lagi…

Ketika Kekerasan Masih Dibela

Senin, Juni 2nd, 2008

Sedih melihat banyak dari saudara-saudara kita di negeri ini masih memberikan pembenaran atas terjadinya sebuah kekerasan. Memberikan pemakluman apalagi pembenaran terhadap sebuah kekerasan karena alasan apapun hanyalah akan memunculkan konflik dan kekerasan baru.

Bukannya damai itu lebih menyejukkan? Bukannya setiap masalah itu bisa dibicarakan jalan keluarnya? Agaknya mencari solusi dengan jalan kekeluargaan dan asas mufakat hanya tinggal slogan semata.  Sungguh menyedihkan….

Budaya Ngeles dan Cari Kambing Hitam

Senin, Juni 2nd, 2008

Survei di lapangan menunjukkan pasokan kambing hitam di pasar hewan negeri ini kian langka, pasalnya kian hari, kian banyak orang yang kerap mencari kambing hitam terhadap masalah yang ada. Sadar maupun tidak, ngeles kian menjadi budaya bangsa ini. Dari (oknum) maling sampai (oknum) pej*b*t sering terlihat saling tuduh, lempar tanggung jawab dan mencari kambing hitam ketika dihadapan oleh sebuah masalah, baik yang remeh temeh hingga yang sangat krusial.

Kewibawaan hanya tinggal dalam baju batik mahal yang dikenakannya. Ketika masuk kamar dan baju itu dilepas, seakan tak ada kewibawaan yang tersisa melekat dalam badan. Tidak ada lagi titisan-titisan kstaria yang gagah berani seperti di kisah pewayangan yang lahir di jaman ini, yang ketika lalai menjalankan tugasnya, siap berkata dengan lantang, “Ya, ini salah saya. Saya bertanggung jawab atas ini tanpa tapi dan tanpa syarat, ini kealpaan saya dan saya siap mundur dari jabatan saya.”

Jadi ingat, dulu waktu di sekolah dasar, sering kali kita meremehkan pelajaran budi pekerti. Pelajaran yang sering kita anggap gak jelas dan gak mutu ini ternyata sebenarnya sangat diperlukan untuk membangun pribadi-pribadi yang santun, bertangung jawab, dan menghormati sesama. Agaknya porsi pelajaran budi pekerti ini harus ditambah dan diperpanjang. Mungkin tak hanya dari SD, tapi sampai perguruan tinggi, agar kita semua tak lupa untuk selalu menjadi pribadi yang berbudi pekerti.